Mitchell Barnes (CEO RYSE 3D) Raih King’s Award Kedua: Dari Prototipe ke Produksi Massal 3D Printing
Kabar membanggakan datang dari dunia manufaktur digital. Mitchell Barnes, CEO dari perusahaan RYSE 3D, baru saja menerima penghargaan King’s Award keduanya dalam kurun waktu tiga tahun. Penghargaan ini merupakan salah satu apresiasi paling bergengsi di Inggris bagi pelaku usaha yang menunjukkan prestasi luar biasa.
Setelah sebelumnya memenangkan King’s Award untuk kategori Inovasi pada tahun 2024, kali ini Barnes mendapatkan pengakuan di kategori Enterprise berkat keberhasilannya melakukan ekspansi ke pasar internasional secara masif.

Membuktikan Bahwa 3D Printing Bisa Digunakan untuk Produksi Massal
Bagi orang awam, teknologi 3D printing sering kali dianggap hanya untuk membuat prototipe atau barang contoh. Namun, melalui RYSE 3D yang didirikan sejak 2017, Mitchell Barnes berhasil membuktikan bahwa teknologi ini mampu digunakan dalam series production atau produksi dalam jumlah besar.
Saat ini, RYSE 3D telah menjadi pemasok utama komponen cetak 3D berperforma tinggi untuk 23 proyek hypercar di seluruh dunia. Tidak hanya itu, mereka juga menyuplai komponen penting untuk industri kedirgantaraan (aerospace), pertahanan, hingga kontrak energi.
Pertumbuhan Ekspor yang Luar Biasa
Keberhasilan Mitchell Barnes tidak lepas dari keberaniannya membawa teknologi lokal Inggris ke kancah global. Sejak tahun 2023, penjualan internasional perusahaan ini melonjak drastis hingga 2.322%. Jika sebelumnya pasar mereka hanya terfokus di Amerika Serikat, kini RYSE 3D telah menyuplai klien-klien besar di Denmark, Prancis, hingga Latvia.
Kami melihat pencapaian ini sebagai bukti nyata bahwa kepercayaan industri global terhadap komponen hasil 3D printing semakin meningkat, asalkan dikelola dengan standar kualitas yang tinggi.

Investasi pada Inovasi dan Teknologi Mandiri
Pertumbuhan yang pesat ini membuat RYSE 3D mampu menginvestasikan kembali dana lebih dari £1 juta (sekitar Rp20 miliar) untuk riset dan pengembangan (R&D), material yang lebih ringan, serta peluncuran printer 3D buatan mereka sendiri yang diberi nama ‘LANDR’.
Dengan tim yang kini berjumlah 18 orang, RYSE 3D mampu mencetak hingga empat juta komponen setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan betapa produktifnya manufaktur digital jika dikombinasikan dengan manajemen bisnis yang tepat.
“Tidak ada rasa pencapaian yang lebih besar daripada melihat komponen yang direkayasa dengan hati-hati di bengkel kami masuk ke jalur produksi global untuk merek-merek ternama dunia,” ujar Barnes dalam keterangannya.
Kisah Mitchell Barnes dan RYSE 3D memberikan inspirasi bagi kita semua bahwa teknologi 3D printing memiliki potensi yang tidak terbatas untuk mengubah wajah industri manufaktur di masa depan.
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui bagaimana teknologi 3D printing dapat membantu mempercepat proses produksi di bisnis Anda? Kami di Extrude Engineering siap membantu memberikan solusi terbaik untuk kebutuhan manufaktur Anda. Mari berdiskusi lebih lanjut mengenai potensi teknologi ini bagi proyek Anda ke depan.